Posts

euro-447209_1280

Laporan Arus Kas Terkini

Mengenal berbagai metode pembiayaan (costing) dalam manajemen persediaan atau inventory (bagian 2)

Sekarang kita akan membahas 3 metode costing berikutnya yang umumnya digunakan untuk menentukan nilai persediaan dan nilai harga pokok penjualan (COGS):

  1. Metode Biaya Terakhir (Most Recent Cost)
    Di metode ini, nilai cost untuk setiap item barang ditentukan dari nilai terakhir saat terjadi pembelian. Contoh: Item ‘A’ dibeli dengan harga $10 per unit dan kemudian dibeli lagi $15 per unit, maka harga pokok nya adalah $15.
  2. Metode Lot Number (Nomor Lot)
    Setiap item dikelompokkan dan diidentifikasi lewat nomor Lot. Nomor Lot biasanya digunakan untuk tujuan costing dan tracking (pelacakan). Metode ini akan cocok jika item barang diidentifikasi berdasarkan kelompok (unit group) seperti makanan dan obat-obatan. Nomor Identifikasi Lot ini akan diperlukan setiap kali unit barang diterima atau terjual dari Inventory. Jadi harga pokok setiap item barang yang terjual akan sama dengan harga beli setiap item di setiap lot yang terjual.
  3. Metode Nomor Serial (Serial Number)
    Lewat serial number, setiap item barang dan harga belinya akan teridentifikasi secara unik. Nomor seri biasanya digunakan pada komputer dan alat-alat elektronik. Harga pokok pada saat barang terjual akan sama dengan harga beli setiap item untuk setiap nomor seri yang terjual.

 

PT. BSC Indonesia adalah konsultan resmi Sage 300 ERP (Accpac) yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan solusi Sage 300 ERP Accpac di berbagai perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia. Silahkan hubungi kami untuk konsultasi solusi atas permasalahan perusahaan Anda.

Mengenal berbagai metode pembiayaan (costing) dalam manajemen persediaan atau inventory (bagian 1)

Persediaan barang (inventory) bisa menjadi aset terbesar Anda dalam menjalankan bisnis. Oleh karena itu diperlukan metode pengukuran yang benar dan tepat untuk menilai atau mengukur nilai buku atau nilai moneter dari persediaan/stok sehingga tersaji secara akurat di laporan keuangan Anda. Jika tidak, tentu akan mengakibatkan tidak cocoknya komposisi biaya dan penjualan yang berujung pada keputusan bisnis yang salah.

Di perusahaan-perusahaan dagang, ritel, distributor atau manufaktur, kita pasti mengenal adanya manajemen persediaan (stok atau inventory). Nah, kita mau melihat beberapa metode costing yang umumnya digunakan untuk menentukan nilai persediaan dan nilai harga pokok penjualan (COGS):

  1. Metode FIFO (First-In First-Out)
    Di metode ini diasumsikan nilai cost setiap item barang yang dipakai akan sama dengan saat barang itu dibeli. Misal barang X dibeli $20 per unit sebanyak 10 unit dan kemudian dibeli lagi 15 unit seharga $25 per unit. Maka pada saat penjualan nilai cost yang dikenakan terhadap barang X adalah $20 untuk 10 unit barang yang pertama dijual, kemudian $25 untuk penjualan 15 unit berikutnya.
  2. Weighted Moving Average Method
    Metode ini akan menilai cost persediaan barang secara rata-rata dari barang  yang pertama kali masuk hingga yang terakhir. Metode ini lebih baik dari FIFO dengan mempertimbangkan faktor perubahan atau inflasi biaya.
    Formula yang digunakan biasanya : (jumlah barang sekarang x nilai barang sekarang + jumlah barang baru x nilai barang baru) / (jumlah barang sekarang + jumlah barang baru).
    Contoh: Ada 10 unit barang X dengan nilai $10 per unit, kemudian datang barang baru 15 unit seharga $15 per unit, jadi nilai costing berdasarkan metode average menjadi : ) (10*10+15*15)/ (10+15) = $13 per unit.
  3.  Metode LIFO (Last-In First-Out)
    Metode ini mengasumsikan nilai yang dipakai saat barang tersebut dipakai/diijual adalah nilai terakhir yang diterima. Biasanya dipakai oleh perusahaan yang menjual barang-barang makanan, sayuran dan sejenisnya dimana konsumen menginginkan stok yang paling ‘fresh’ dan nilai yang paling updated.
    Contoh: Barang X dibeli $20 per unit sebanyak 10 unit dan kemudian dibeli lagi 15 unit seharga $25 per unit. Maka pada saat penjualan nilai cost yang dikenakan terhadap barang X adalah $25 untuk 15 unit barang yang pertama dijual, kemudian $20 untuk penjualan 20 unit berikutnya.
  4. Standard Costing
    Metode ini adalah metode pembiayaan yang paling sederhana dimana nilai costing ditentukan untuk masing-masing item dan nilai tersebut akan tetap (tidak berubah) sampai ada pembaharuan. Nilai persediaan akan sama dengan jumlah stok yang ada dikalikan dengan nilai standard cost, dan jika barangnya terjual nilai standard cost ini akan dipakai sebagai COGS atau harga pokok penjualan. Metode ini akan cocok jika tipe barang yang ada nilainya konstan dan tidak berubah terlalu sering. Kelemahannya nilai barang menjadi tidak aktual jika nilai standard cost tidak ter-update secara reguler, sehingga menyebabkan selisih nilai aktual dan nilai buku menjadi tinggi.

 

PT. BSC Indonesia adalah konsultan resmi Sage 300 ERP (Accpac) yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan solusi Sage 300 ERP Accpac di berbagai perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia. Silahkan hubungi kami untuk konsultasi solusi atas permasalahan perusahaan Anda.

Workshop: Improving Project Management with Costing and Profit Analysis

[two_third first]
[quote style=”boxed”]Manage your project accurately and in realtime, complete with Cost Budgeting and Profit/Loss Analysis using popular Project & Job Costing in Sage 300 ERP (ACCPAC)[/quote]

 

 

Join us in this workshop “Improving Project Management with better cost estimations and profit analysis” on 28 November 2013 at PT. BSC Indonesia, Jakarta.  Learn how to manage your project cost better and improve its profitability by implementing budgeting and project cost monitoring.  Generate profit/loss report for your projects and make better decisions.

In this workshop, you will learn:

  1. Create and manage contract for projects
  2. Cost budgeting and cost allocation for projects (material, labour, equipment, overhead, subcontractor, etc)
  3. Issue sales order and AR invoice to customer for the project
  4. Issue PO related to the project to your Supplier
  5. Integration with General Ledger
  6. Profit/Loss Anaylsis with drill-down capability into detail levels

This workshop is suitable for companies that manage project basis in their business.

Agenda:

  • Accpac & Project Job Costing Presentation
  • Software Demo
  • Q & A session where you can consult directly with our Consultants for any specific issues
  • Closing

The seats are limited! We only take limited number of attendees for this event.  Please make reservation early by Tuesday, 26 Nov 2013 to secure your seat.

[button link=”http://www.bsc.co.id/seminar-registration-13112″ size=”large” color=”#CCCCCC” text=”navy”]Register Now >>[/button]

 

For further information please contact Bp. Fanny Lie at (021) 252-1011.

[quote style=”boxed” ]PT. BSC Indonesia is official business partner of Sage Asia in Indonesia. We provide consulting, implementation and support services for Sage 300 ERP (Accpac) since 1996.[/quote]
[/two_third]

[one_third]

 

[quote style=”boxed”]

[iconbox title=”Event Detail” icon=”Map.png”]

Date: Thursday, 28 Nov 2013
Time: 10.00 – 12.00
Venue:
Loire Room, Mayapada Tower 11th floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.28, Jakarta 12920
Fee: Free of charge
Language: Indonesia

[/iconbox]

[button link=”http://www.bsc.co.id/seminar-registration-13112″ size=”large” color=”#CCCCCC” text=”navy”]Register Now >>[/button]

[/quote]

[/one_third]

Purchase planning

Solusi Manufaktur: Beralih dari Inventory Tracker ke Inventory Planner

Ya, seringkali kita menjumpai masalah kekurangan/terlambatnya  supply bahan baku sehingga proses manufaktur menjadi tidak efisien yang pada akhirnya tidak bisa memenuhi harapan penjualan (sales forecast). Jika situasi ini yang sedang perusahaan Anda hadapi berarti mungkin selama ini Anda belum menerapkan sistem perencanaan pengadaan material yang memadai. Apalagi jika di pasar, permintaan akan produk Anda semakin tinggi ditambah misi top management untuk mengembangkan skala bisnis perusahaan pun dipastikan akan menjadi terhambat.

Mungkin saat ini yang terjadi adalah manajemen stok Anda hanya fokus pada aktivitas pelacakan (tracking) status stok, menyusun (compiling) laporan stok dan kalkulasi kebutuhan material, itupun masih menggunakan sistem semi-manual yang menyebabkan Anda tidak bisa mendapatkan ‘real time insight’ terhadap kondisi stok material serta tidak terciptanya sinergi dan proses automatisasi yang terintegrasi untuk siklus Purchase Planning yang baik seperti terlihat pada gambar 1. Contoh, Purchase Advise Report yang diterima divisi purchasing tidak akurat atau terlambat yang mengakibatkan proses MRP itu sendiri menjadi tidak terencana dengan baik dan benar. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam sistem perencanaan pengadaan material ini, yaitu Total Demand, Total Supply dan Item Planning (lihat gambar 2).

Beberapa akibat lain dari tidak adanya perencanaan pengadaan material (Material Purchase Planning) ini bisa Anda bayangkan sendiri, misalnya jumlah produksi yang selalu tidak bisa memenuhi permintaan, ataupun kekurangan pasokan di pasar, terlambatnya ketersediaan barang di pasar, sulitnya menaikkan target penjualan yang berimbas pada stagnannya pendapatan perusahaan.

Nah, mari sekarang benahi sistem perencanaan pengadaan material Anda! Semoga bermanfaat.

 

BSC Indonesia adalah konsultan resmi Sage 300 ERP (Accpac) yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan solusi manufaktur dan sistem ERP yang baik ke berbagai perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia. Silahkan hubungi kami untuk konsultasi solusi atas permasalahan perusahaan Anda.

 

Solusi Finansial: Bagaimana seharusnya melakukan closing bulanan?

Istilah tutup buku (closing) bulanan pasti sudah tidak asing lagi buat para pekerja akunting di setiap perusahaan. Nah dari istilahnya sendiri, sebenarnya closing bulanan berarti transaksi-transaksi di bulan yang sudah berjalan sudah difinalisasi yang berakhir pada penentuan saldo akhir (ending balance) untuk setiap akun dari bulan fiskal yang sudah berjalan tersebut.

Di beberapa sistem akunting atau ERP saat ini, istilah closing bulanan sudah tidak dipakai lagi karena beberapa prosesnya sudah diotomatisasi sehingga hanya mengenal proses closing tahunan (di akhir tahun fiskal).

Lewat artikel ini, kami mencoba merangkum beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses closing bulanan:

  1. Revaluasi mata uang asing
    Revaluasi biasanya dilakukan di akhir bulan periode berjalan dengan melakukan penyesuaian (adjustment) terhadap semua transaksi dalam mata uang asing (non-functional currencies) dengan menggunakan rate aktual yang ditentukan pada waktu melakukan revaluasi sehingga didapatkan saldo akhir yang sesuai. Di sistem ERP seperti Sage 300 ERP (Accpac) proses revaluasi ini sudah dilakukan secara otomatis.
  2. Rekonsiliasi bank
    Rekonsiliasi bank adalah prosedur pencocokan pencatatan saldo kas di buku besar perusahaan dengan pencatatan di rekening koran bank. Rekonsilisasi bank dilakukan untuk mencari penyebab perbedaan saldo atau ketidakcocokan tersebut antara catatan perusahaan dengan catatan bank, misal ada kesalahan pencatatan di catatan perusahaan, ada transaksi penerimaan atau pengeluaran di bank yang belum tercatat di buku besar perusahaan, deposit in transit (belum tercatat di bank), pembayaran ke supplier lewat cek tapi belum dicairkan supplier pada saat tutup buku (outstanding check), penerimaan debitur lewat transfer rekening giro yang biasanya baru diketahui perusahaan setelah menerima laporan memo kredit dari bank, demikian juga biaya bank (service charge) yang biasanya baru diketahui perusahaan setelah menerima laporan memo debit dari bank dan lain-lain.
    Di sistem ERP seperti Sage 300 ERP (Accpac) proses rekonsilisasi ini sudah bisa diotomatisasi sehingga lebih mudah dan cepat.
  3. Posting dan penguncian (locking) atas transaksi untuk bulan pada periode fiskal yang sudah berjalan
    Setelah semua transaksi difinalisasi, maka semua transaksi di bulan tersebut akan di-posting dan di-locked (dikunci) sehingga tidak bisa diubah lagi. Selain itu user juga tidak bisa melakukan transaksi baru di periode yang sudah di-locked. Ini bertujuan untuk mencegah data yang sudah difinalisasi (saldo akhir) berubah tanpa ada proses otorisasi yang benar.
  4. Pemindahbukuan akun PL (Profit & Loss)
    Proses tutup buku konvensional biasanya memiliki akun sementara (di bawah akun Retained Earnings / Laba Ditahan) di struktur COA (Chart of Accounts), biasanya disebut akun Profit & Loss for Current Period yang pada akhir tahun fiskal baru dipindahkan ke akun Retained Earnings. Nah di sistem akunting/ERP modern saat ini seperti Sage 300 ERP Accpac, proses ini tidak diperlukan lagi dan keberadaan akun sementara ini juga tidak diperlukan lagi karena sebenarnya sudah dilakukan secara otomatis.

Semoga bermanfaat!

 

BSC Indonesia adalah konsultan resmi Sage 300 ERP (Accpac) yang sudah berpengalaman dalam mengimplementasikan solusi finansial khususnya untuk Sage 300 ERP Accpac ke berbagai perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia. Silahkan hubungi kami untuk konsultasi solusi atas permasalahan perusahaan Anda.